Minggu, 28 Oktober 2018

LAPORAN PRAKTIKUM REAGEN PEMBUATAN LARUTAN NATRIUM TIOSULFAT DAN ASAM SULFAT

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
       Definisi larutan sendiri adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi secara fisik. Larutan terdiri atas zat terlarut dan pelarut. Dalam larutan fase cair, pelarutnya (solvent) adalah cairan, dan zat yang terlarut di dalamnya disebut zat terlarut (solute), bisa berwujud padat, cair, atau gas. Khusus untuk larutan cair, maka pelarutnya adalah volume terbesar. Pada saat pembuatan larutan hal yang harus diperhatikan yaitu volume, massa, serta konsentrasi dari larutan yang akan dibuat. Konsentrasi sendiri didefinisikan sebagai jumlah solute yang ada dalam sejumlah larutan atau pelarut. Konsentrasi dapat dinyatakan dalam beberapa cara, antara lain molaritas, molalitas, normalitas dan sebagainya. Molaritas yaitu jumlah mol solute dalam satu liter larutan, molalitas yaitu jumlah mol solute per 1000 gram pelarut sedangkan normalitas yaitu jumlah gram ekuivalen solute dalam 1 liter larutan. Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering dihasilkan konsentrasi yang tidak tepat dengan yang diinginkan, maka dari itu dalam pembuatan larutan harus dilakukan seteliti mungkin dan menggunakan perhitungan yang tepat, sehingga hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diharapkan.
1.2 Tujuan
      Untuk mengetahui cara membuat larutan dengan konsentrasi tertentu serta mengencerkan larutan.
1.3 Manfaat
      Memberikan informasi mengenai cara pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu serta mengencerkan larutan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Larutan
     Larutan adalah campuran homogen (komposisinya sama), serba sama (ukuran partikelnya), tidak ada bidang batas antara zat pelarut dengan zat terlarut (tidak dapat dibedakan secara langsung antara zat pelarut dengan zat terlarut), partikel- partikel penyusunnya berukuran sama (baik ion, atom, maupun molekul) dari dua zat atau lebih. Dalam larutan fase cair, pelarutnya (solvent) adalah cairan, dan zat yang terlarut di dalamnya disebut zat terlarut (solute), bisa berwujud padat, cair, atau gas. Dengan demikian, larutan = pelarut (solvent) + zat terlarut (solute). Khusus untuk larutan cair, maka pelarutnya adalah volume terbesar. (Sofyan. 2012.)
2.2 Reaksi-Reaksi Dalam Larutan
a.       Eksoterm, yaitu proses melepaskan panas dari sistem ke lingkungan, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat- zat kimia yang bersangkutan akan turun.
b.      Endoterm, yaitu menyerap panas dari lingkungan ke sistem, temperatur dari campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat- zat kimia yang bersangkutan akan naik. (Sofyan. 2012)
2.3  Pembagian Larutan
A.    Pembagian Larutan Berdasarkan kelarutan zat terlarut :
1.      Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berada didalam kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut).. Atau dengan kata lain, larutan yang partikel- partikelnya tepat habis bereaksi dengan pereaksi (zat dengan konsentrasi maksimal). Larutan jenuh terjadi apabila bila hasil konsentrasi ion = Ksp berarti larutan tepat jenuh.
2.      Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak dari pada yangs seharusnya, ada pula temperature tertentu, terdapat juga zat yang tidak larut.. Atau dengan kata lain, larutan yang tidak dapat lagi melarutkan zat terlarut sehingga terjadi endapan. Larutan sangat jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion > Ksp berarti larutan lewat jenuh (mengendap). (Titi. 2015)
B.     Pembagian Larutan berdasarkan Konsentrasi
    Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut, larutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1.    Larutan pekat yaitu larutan yang mengandung relatif lebih banyak solute dibanding solvent.
2.    Larutan encer yaitu larutan yang relatif lebih sedikit solute dibanding solvent. (Putra. 2015)
C.      Pembagian Larutan berdasarkan daya hantar larutan
     Berdasarkan daya hantarnya larutan terbagi 2 yaitu :
a.       Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan memberikan gejala berupa menyalanya lampu pada alat uji atau timbulnya gelmbung gas dalam larutan .Larutan yang menunjukan gejala – gejala tersebut pada pengujian tergolong ke dalam larutan elektrolit.. Larutan elektrolit dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
1.      Elektrolit kuat mempunyai daya hantar yang relatif tinggi walaupun konsentrasinya relatif kecil. Yang tergolong dalam elektrolit kuat adalah:
-          Asam-asam kuat, seperti : HCl, HClO3, H2SO4, HNO3
-          Basa-basa kuat, yaitu basa-basa golongan alkali dan alkali tanah, seperti: NaOH, KOH, Ca(OH)2, Ba(OH)2 dan lain-lain.
-          Garam-garam yang mudah larut, seperti: NaCl, KI, Al2(SO4)3 dan lain-lain.
2.      Elektrolit lemah mempunya daya hantar yang relatif rendah walaupun konsentrasinya relatif besar.
-          Asam-asam lemah, seperti : CH3COOH, HCN, H2CO3,
-          Basa-basa lemah seperti : NH4OH, Ni(OH)2 dan lain-lain
-          Garam-garam yang sukar larut, seperti : AgCl, CaCrO4, PbI2
3.      Larutan nonelektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik dengan memberikan gejala berupa tidak ada gelembung dalam larutan atau lampu tidak menyala pada alat uji. Larutan yang menunjukan gejala – gejala tersebut pada pengujian tergolong ke dalam larutan nonelektrolit.. Tergolong ke dalam jenis ini misalnya: Larutan urea, larutan sukrosa, larutan glukosa, larutan alkohol dan lain-lain (Andin. 2012.)
2.4 Definisi Konsentrasi
      Konsentrasi adalah istilah umum untuk menyatakan banyaknya bagian zat terlarut dan pelarut yang terdapat dalam larutan. Konsentrasi dapat dinyatakan secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Untuk ukuran secara kualitatif, konsentrasi larutan dinyatakan dengan istilah larutan pekat (concentrated) dan encer (dilute). Kedua isitilah ini menyatakan bagian relatif zat terlarut dan pelarut dalam larutan. Larutan pekat berarti jumlah zat terlarut relatif besar, sedangkan larutan encer berarti jumlah zat terlarut relatif lebih sedikit. Biasanya, istilah pekat dan encer digunakan untuk membandingkan. (Inkar. 2012)
2.5 Molaritas
     Molaritas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam setiap satu liter larutan. Molaritas dilambangkan dengan notasi M dan satuannya adalah mol/liter. Secara matematis dirumuskan seperti berikut:
 Jika volume larutan dinyatakan dalam ml maka rumus molaritas dapat dinyatakan dengan:
m : massa zat terlarut
Mr : massa molekul relative

Keterangan:
M : molaritas (mol/L)
n  : Jumlah mol (mol)
  V  :  Volume larutan (L)
(Mahmud. 2016)
2.6 Molalitas
     Kemolalan atau konsentrasi molal (m) menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut. Secara matematis, dapat dirumuskan:
   Keterangan:
M      : Molalitas
G       : Massa zat terlarut
P       : Massa zat pelarut
Mr        : Massa molekul relatif (Mahmud. 2016)

2.7 Normalitas
    Normalitas menyatakan jumlah ekuivalen zat terlarut dalam 1 liter larutan.
Keterangan:
N  = Normalitas larutan
ek = ekuivalen zat terlarut
V   = volume larutan
M  = molaritas
a    = valensi (banyaknya ion)
m   = massa zat terlarut
(Mahmud. 2016)


2.8 Uraian Bahan
1.      Aquadest (Ditjen POM. 1995)
Nama resmi          : AQUADESTILLATA
Nama lain             : Air suling, Aquadest
Rumus kimia        : H2O
Berat molekul       : 18,02
Pemerian             : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak  
                                mempunyai rasa.
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup.

2.      Kalium Iodida (Ditjen POM. 1979)
Nama Lain           : Kalium iodida
RM/BM                : KI / 166,00
Pemerian              : Hablur heksahedral, transparan atau tidak   berwarna, opak
                               dan putih, atau serbuk butiran putih. Higroskopik.
Kelarutan             : Sangat mudah larut dalam air, lanih mudah larut dalam air
                                mendidih, larut dalam etanol 95 % P, mudah larut dalam
                                gliserol P.
Kegunaan             : Sebagai reduktor yang melepaskan I2
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup baik

3.      Natrium Tiosulfat (Ditjen POM. 1995)
Nama lain             : Natrium tiosulfat/hipo
RM/ BM               : Na2S2O3 / 248,17
Pemerian              : Hablur besar tidak berwarna /serbuk hablur kasar. Dalam
                               lembab meleleh basah, dalam hampa udara merapuh.
Kelarutan             : larut dalam 0,5 bagian air,praktis tidak larut dalam etanol
Kegunaan             : Sebagai penitrasi
Penyimpanan       : Dalam wadah tertutup rapat.

4.      Asam Sulfat (Ditjen POM. 1995)
Nama lain             : Asam sulfat
RM/ BM               : H2SO4 / 98,07
Pemerian              : Cairan kental seperti minyak,korosif,tidak berwarna jika
                                ditambahkan dalam air menimbulkan panas.
Kegunaan             : Sebagai sampel
Penyimpanan       : Dalam wadah tertutup rapat























BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1  Waktu dan Tempat
    Praktikum pembuatan larutan ini dilakukan pada 2 Desember 2017, di kampus Stikes  Bina  Mandiri Gorontalo.
3.2  Alat
     Pada pelaksaan praktikum kali ini menggunakan alat-alat laboratorium seperti labu takar, pipet tetes, batang pengaduk, gelas kimia, botol reagen, kaca arloji, dan spatula.
3.3   Bahan
     Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu aquadest, natrium tiosulfat, asam sulfat, dan kalium iodida.
3.4  Prosedur Kerja
1.      Prosedur Kerja Natrium Tiosulfat
     Menghitung massa yang akan diukur menggunakan rumus molaritas. Menimbang N2S2O3 dan KI menggunakan neraca analitik. Mengisi N2S2O3­ dan KI yang telah di timbang kedalam gelas kimia kemudian di encerkan dengan aquades. Menuang N2S2O3­ dan KI  ­kedalam labu ukur kemudian tambahkan aquades hingga mencapai batas 100 ml, Homogenkan. Memindahkan larutan yang telah di encerkan kedalam botol kemudian di berikan label.
2.      Prosedur Kerja Asam Sulfat
          Menghitung volume yang akan diukur menggunakan rumus pengenceran. Memipet larutan Asam Sulfat sebanyak 16 ml kemudian masukan ke dalam labu takar. Mengisi labu takar dengan aquades hingga mencapai batas garis pada labu takar, homogenkan. Memindahkan larutan yang telah di encerkan kedalam botol kemudian di berikan label.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
1.     
M2   = 0.05 N
V2    = 100 ml    0,1 L
Menghitung massa  Na2S2O3 dengan konsentrasi 0.1 N dan 0.05 N dengan volume  100 ml.
Dik: M1   = 0.1 N
 V1    = 100 ml             0,1 L
 Mr  = 248.17
Dit: gr ?
 =  2,4817 X 0.05
 0.124085

Penye:
 =  2,4817 X 0.1
 0.24817
2.      Menghitung massa KI dengan konsentrasi 10% dengan volume  50 ml
Dik: M   =  10%
        V    = 50 ml
Dit: gr ?
              Penye:
% =
                 10% =
     B = 0.1 X 50
     B = 5 gr
3.      Menghitung molaritas H2SO4 dengan konsentrasi 95%  dan massa jenis air 1,8 kg/l
Dik: %massa = 95%                                                                                  
Mr = 98
Dit : M ?
Penye :
M =
M =
M = 18
4. Menghitung H2SO4
Dik :  M1 = 18
M2 = 4
V2 = 100 ml
Dit : V1 ?
Penye :
V1 X M1 = V2 X M2
V1 X 18 = 100 X 4
V1 =
V1 = 22,22 ml
Normalitasnya :  = 11,11 ml


4.2 Pembahasan
   Pada percobaan pertama dilakukan pelarutan zat padat untuk mendapatkan konsentrasi larutan. Pada percobaan ini menggunakan padatan N2S2O3 dan KI sebagai zat yang akan dilarutkan dengan menggunakan aquadest sebagai pelarut. Percobaan ini dilakukan untuk mendapatkan larutan N2S2O3 0.1 N dan 0.05 N serta KI 10 % masing masing 100 ml dan 50 ml. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, massa N2S2O3 0.1 N yang dibutuhkan adalah 0.25 gr untuk N2S2O3 0.05 N sebanyak 0.12 gr sedangkan untuk KI dibutuhkan 5 gr untuk membuat KI 10%. Faktor kesalahan pada peercobaan ini adalah pengukuran menggunakan neraca analitik yang kurang tepat dan pengukuran volume larutan yang kurang pas pada meniskus bawah.
Reaksi Ionisasi:
                             N2S2O3                        2Na+ + S2O32-
                             KI                                K+ + I-
     Pada percobaan kedua dilakukan pengenceran larutan. Pengenceran merupakan perlakuan untuk mendapatkan konsentrasi larutan yang lebih rendah dari yang sebelumnya. Percobaan ini menggunakan H2SO4 sebagai larutan yang akan diencerkan sekaligus merupakan zat terlarut dan menggunakan aquadest sebagai pelarut. Percobaan ini dilakukan untuk mendapatkan H2SO4 4 N sebanyak 100 ml. Berdasarkan perhitungan volume H2SO4 yang dibutuhkan adalah 22,22 ml. Kemudian 22,22 ml H2SO4 dimasukkan kedalam labu takar 100 ml dan ditambahkan aquadest hingga larutan menjadi 100 ml. Fungsi penambahan akuades adalah untuk menurunkan konsentrasi dari H2SO4. Faktor kesalahan dari praktikum ini adalah ketika pengukuran volume larutan tidak pas pada meniskus bawah.
Reaksi Ionisasi:
H2SO­4                       2H+ + SO42-



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.      Massa yang diperlukan untuk membuat N2S2O3 0,1 N dengan volume sebanyak 100 ml sebanyak 0.24817 gr.
2.      Massa yang diperlukan untuk membuat N2S2O3 0,05 N dengan volume sebanyak 100 ml sebanyak 0.124085 gr.
3.      Massa yang diperlukan untuk membuat KI 10% dengan volume sebanyak 50 ml sebanyak 5 gr.
4.      Volume yang dibutuhkan untuk membuat H2SO4 4 M sebanyak 100 ml adalah 22,22 ml
5.2  Saran
     Semua praktikan harus mengikuti prosedur yang telah di tetepkan sehingga praktikan terhindar dari resiko-resiko yang mungkin terjadi pada saat praktikum berlangsung.

Jumat, 03 November 2017

Laporan Praktikum Media

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
     Bakteri merupakan organisme mikroskopik. Hal ini menyebabkan organisme ini sangat sulit untuk dideteksi, terutama sebelum ditemukannya mikroskop. Barulah setelah abad ke-19 ilmu tentang mikroorganisme, terutama bakteri (bakteriologi) mulai berkembang. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai hal tentang bakteri telah berhasil ditelusuri (Diktat Mikrobiologi Dasar).
     Berdasarkan atas penemuan para tokoh maka muncullah suatu proses yang dinamakan penanaman bakteri baik melalui media padat, cair ,ataupun semi solid. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Volk dkk,1993).
     Akan tetapi yang terpenting medium harus mengandung nutrisi yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrisi ini adalah degradasi dari nutrisi dengan molekul yang kompleks. Nutrisi dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh (Label, 2008).
     Berdasarkan hal tersebut, maka di lakukanlah praktikum ini untuk  mengetahui medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme yang  sesuai susunannya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Medium adalah bahan yang terdiri dari campuran zat-zat untuk menambahkan mikroba. Selain itu juga berguna untuk isoalsi sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba dalam satu bahan. (Volk dkk,1993).
1.2. Tujuan
         Untuk mengetahui proses pembuatan media gula-gula
1.3 Manfaat
          Memberikan informasi tentang cara pembuatan media gula-gula

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori
    Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Volk,dan Wheeler,1993.Mikrobiologi Dasar Jilid 1).
   Pada pertumbuhannya terjadi sintesa yang khas dan berimbang dari komponen-komponen protoplasma dari bahan-bahan gizi (nutrien) yang terdapat dalam lingkungannya (Mikrobiologi Kedokteran).
   Bakteri itu berbeda-beda, contohnya: Chleamydiaceeae mempunyai daur perkembangan yang unik, yaitu terdapat bentuk infeksius yang secara metabolik bersifat inaktif (badan elementer,elementary body EB) dan bentuk noninfeksius yang secara metabolik bersifat aktif (badan retikulat,reticulate body, RB) (Sylvia,2009,Bakteri Intra Seluler).
   Medium adalah bahan yang terdiri dari campuran zat-zat untuk menambahkan mikroba. Selain itu juga berguna untuk isolasi sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba dalam suatu bahan. Medium pembiakan yang digunakan untuk mengembangbiakkan bakteri di laboraturium dapat dibedakan dalam: medium pembiakan dasar, medium pembiakan penyubur, medium pembiakan selektif, dan cara mendapatkan  biakan murni (Drs.Koes irianto,2006,mikrobiologi).
   Begitu tersedia kodinsi yang memuaskan untuk kultivasi, maka reproduksi dan pertumbuhan bakteri dapat diamati dan diukur, untuk menentukan pengaruh berbagai kondisi baik terhadap reproduksi dan pertumbuhan bakteri tersebut, dan untuk menentukan perubahan-perubahan apa saja yang dihasilkan oleh bakteri di dalam lingkungan tumbuhnya.
   Untuk menelaah bakteri di laboratorium kita harus dapat menumbuhkan bakteri dalam biakan murni.Untuk melakukan hal itu, haruslah mengerti jenis-jenis nutrisi yang disyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya.
   Dalam pembuatan medium harus ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu sebagai berikut :
1.  Mengandung semua zat yang mudah digunakan oleh mikroba.
2.  Tidak mengandung zat penghambat pertmubuhan.
3.  Mempunyai tekanan osmose dan tekanan muka.
4.  Mempunyai derajat keasaman (pH) yang sesuai.
5.  Dan dalam keadaan steril.
   Jenis-jenis medium berdasarkan komponen dasar pembuatannya :
1. Medium kompleks.
2.  Medium yang tersusun dari bahan kimia tertentu.
   Jenis medium berdasarkan komposisimediumnya :
1.  Medium umum.
2.   Medium diperkaya.
3.   Medium selektif.
4.   Medium diferensial.
Jenis medium berdasarkan komposisi bentuknya :
1.  Medium cair.
2.  Medium semi padat.
3. Medium padat
              (Sinta dkk,2010,Praktikum Mikrobiologi Dasar).
   Biakan murni adalah biakan yang hanya berisi 1 jenis bakteri (Pelczar et al.,1988). Ada berbagai cara untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni yaitu, cara pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan atau penggoresan, cara penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada hewan. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan (Waluyo, 2007).
1.      Cara pengenceran
   Cara pengenceran yaitu dengan mengencerkan misalnya 1 ose bakteri dengan air. Lalu hasil pengenceran tersebut diencerkan lagi dengan beberapa ketentuan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi konsentrasi bakteri(Barazandeh,2008).Cara ini pertama-tama dilakukan oleh Lister dalam tahun 1865. Ia berhasil memiara murni Streptococcus lactis yang diisolasikannya dari susu yang sudah masam. Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari enceran ini kemudian diambil 1 ml untuk diencerkan lagi. Dan dari pengenceran yang kedua ini diambil 1 ml untuk diencerkan lebih lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu medium padat, kemungkinan besar kita akan mendapatkan beberapa koloni tumbuh dalam medium tersebut, tetapi mungkin juga kita hanya memperoleh satu koloni saja. Dalam hal yang demikian ini kita memperoleh satu koloni murni, dan selanjutnya spesies ini dapat kita jadikan biakan murni. Kalau kita belum yakin, bahwa koloni tunggal yang kita peroleh itu murni, kita dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel.
2.  Cara  Penuangan
   Cara ini pertama dilakukan oleh Robert Koch (1843 – 1905), yaitu dengan mengambil sedikit sampel campuran bakteri yang sudah diencerkan, dan sampel ini kemudian disebarkan di dalam suatu medium dari kaldu dan gelatin encer. Teknik ini memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen. Adapun prosedur kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut : Siapkan cawan steril, tabung pengenceran yang akan ditanam dan media padat yang masih cair (>45oC),Teteskan 1 ml secara aseptis.suspensi sel kedalam cawan kosong,tuangkan media yang masih cair ke cawan kemudian putar cawan untuk menghomogenkan suspensi bakteri dan media, kemudian diinkubasi.
 (Volk,dan Wheeler,1993.Mikrobiologi Dasar Jilid 1).

 2.1 Media Gula-Gula
    Media gula-gula digunakan untuk mengetahui apakah kuman memfermentasi masing-masing gula diatas membentuk asam. Media gula-gula ini terpisah dalam 5 tabung yang berbeda dan media yang digunakan adalah masing-masing gula dengan konsentrasi 1% dalam pepton. Masing-masing gula ditandai dengan tinta pada tutup kapas yang berbeda-beda. Untuk glukosa tidak berwarna, laktosa berwarna ungu, maltosa berwarna merah, manitol berwarna hijau, dan sukrosa berwarna biru. Didalam media gula-gula ditambahkan indikator phenol red.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
8. Pipet Pasteur
9. Neraca Analitik
10. Hot Plate
11. Lampu Spritus/ Lampu Bunsen
12. Autoclave
13. Rak Tabung
3.1 Alat
1. Tabung reaksi kecil
2. Tabung Durham
3. Gelas Kimia
4. Gelas Ukur
5. Erlenmeyer
6. Batang Pengaduk
7. Corong Gelas
5. Kapas
6. Aquadest
7. Label
8. Kertas
3.2 Bahan
1. Pepton Powder
2. Maltosa Powder
3. Laktosa Powder
4. Glukosa Powder
 3.3 Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan bahan
2.  Kemudian timbang pepton powder sebanyak 1.53 gr menggunakan neraca    
     analitik, setelah ditimbang diletakan dalam Erlenmeyer
3. larutkan pepton powder dengan aquadest sebanyak 60 ml, homogenkan.
4. setelah di homogenkan. Dipanaskan diatas hot plate dengan suhu 150°c
    jangan sampai mendidih karena dapat merusak mikroorganisme
5. lakukan hal yang sama pada glukosa powder, laktosa powder, dan maltosa
    powder. Masing-masing menggunakan 0.2 gr untuk setiap powder.
6. Setelah ditimbang letakan powder pada setiap Erlenmeyer yang telah di
    labeli sesuai dengan larutan yang akan dibuat.
7. Tambahkan pepton water pada masing-masing Erlenmeyer sebanyak 20 ml
8. Homogenkan. Siapkan 15 tabung reaksi serta 15 durham. Letakan larutan
    glukosa, maltosa, laktosa yang tadi telah di buat pada masing-masing
    tabung reaksi.
9. Setiap larutan di bagi menjadi 5 tabung reaksi. Pada masing-masing tabung
    reaksi berisi Durham yang diletakan terbalik dan diisi dengan 4 ml larutan.
10. Pada saat memasukan larutan ke dalam tabung reaksi gunakan lampu
      Bunsen agar tidak terkontaminasi oleh bakteri.
11. Tutup masing-masing tabung reaksi dengan kapas
12. Selanjutnya bungkus menggunakan kertas sebelum di sterilisasi
13. Sterilkan pada autoclave dengan suhu 121°c selama 15 menit
14. Setelah di sterilisasi dinginkan kemudian di letakan pada rak tabung
      sebelum dimasukan kedalam kulkas
15. Larutan pepton water yang telah dibuat kemudian di panaskan diatas hot
      plate. Pepton water yang dipanaskan tidak boleh sampai mendidih karena
      akan merusak mikroorganisme.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
No.
Gambar
Keterangan
1.
Setelah media disterilisasi, media kemudian di dinginkan di dalam lemari pendingin

4.2 Pembahasan                                                                           
     Media gula-gula digunakan untuk mengetahui apakah kuman memfermentasi masing-masing gula diatas membentuk asam. Media gula-gula ini terpisah dalam 5 tabung yang berbeda dan media yang digunakan adalah masing-masing gula dengan konsentrasi 1% dalam pepton. Masing-masing gula ditandai dengan tinta pada tutup kapas yang berbeda-beda. Untuk glukosa tidak berwarna, laktosa berwarna ungu, maltosa berwarna merah, manitol berwarna hijau, dan sukrosa berwarna biru. Didalam media gula-gula ditambahkan indikator phenol red.
Media Gula-Gula termasuk media Identifikasi, media identifikasi adalah perbenihan yang digunakan untuk menentukan jenis bakteri. Biasanya digunakan beberapa media bersama-sama. Disebut media gula-gula karena terbuat dari beberapa gula seperti, glukosa, laktosa, maltosa, sakarosa. Media gula-gula adalah air pepton yang ditambah gula tertentu.Tujuannya adalah untuk mengetahui bakteri memfermentasi karbohidrat. Pada uji gula-gula hanya terjadi perubahan warna pada media gula-gula yang berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini membentuk asam dari fermentasi glukosa. Pada media gula-gula juga terbentuk gelembung pada tabung durham yang diletakan terbalik didalam tabung media, artinya hasil fermentasi berbentuk gas.
Untuk medium ini dipakai air pepton, jenis gula tertentu 1%, dan indicator fenol red (indikator yang digunakan tidak harus fenol red, indikator lain yang bisa digunakan seperti BTB, warna yang dihasilkan tergantung dari indikator yang digunakan. Jika menggunakan fenol red maka media akan berwarna merah, jika menggunakan BTB maka media akan berwarna biru). Indikator berguna untuk melihat ada atau tidaknya pembentukan asam.Sebelum ditanami oleh bakteri medium tersebut berwarna merah (jika menggunakan indicator fenol red). Apabila sudah ditanami atau terbentuk asam maka akan berwarna kuning. Hal ini terbukti dari seluruh hasil yang diperoleh praktikan, media tersebut masih steril karena berwarna merah.
Selain itu juga, dipergunakan tabung Durham untuk mengetahui ada tidaknya pembentukan gas sebagai hasil penguraian gula dalam medium. Tabung Durham diletakan terbalik di dalam tabung gula sehingga gas yang terbentuk akan tertampung di dalam tabung tersebut. Sebelum dipakai, media gula-gula ini harus selalu diperiksa apakah masih steril atau tidak. Bila telah keruh atau kuning berarti media tidak dapat dipergunakan lagi.Sifat penguraian terhadap gula dari setiap mikroba adalah berlainan, dengan demikian hasil penguraian (reaksi)ini dapat dipakai untuk determinasi suatu jenis bakteri sehingga dapat ditentukan spesiesnya.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
     Media gula-gula adalah air pepton yang ditambah gula tertentu.Tujuannya adalah untuk mengetahui bakteri memfermentasi karbohidrat. Pada uji gula-gula hanya terjadi perubahan warna pada media gula-gula yang berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini membentuk asam dari fermentasi glukosa.
5.2 Saran
     Pada Saat pembuatan media pastikan segala peralatan yang digunakan telah steril agar tidak terkontaminasi dengan bakteri.Pada saat memasukan larutan kedalam tabung reaksi gunakan bunsen agar terhindar dari kontaminasi bakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Indigoe. 2012. Pembahasan Uji Citrate Menggunakan Media Simmon Citrate
            Diakses pada tanggal 7 Oktober 2017

Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi. Bandung : Yrama Widya

Kusnadi.  2003.  Mikrobiologi.  Bandung : Universitas  Pendidikan   Indonesia

Label, C. 2008. Pembuatan Media Agar dan Sterilisasi. http://pustakaumy.ac.id
           Diakses tanggal 7 Oktober 2017

  Muslim. 2011. Mikrobiologi Dasar Jilid 1. FMIPA UMM. Makasar

Pratiwi, S.  T. 2008. Buku Panduan Mikrobiologi  Farmasi.  Jakarta : Erlangga

Sanfa. 2011. Mikrobiologi Dasar. Malang :  Universitas Muhamadiah

Sumarsih. 2011. Mikrobiologi Umum. UI Press. Jakarta

Volk, W.A., dan  Wheeler, M.F.  1993.  Mikrobiologi Dasar. Erlangga.  Jakarta.

Waluyo. 2002. Mikrobiologi Umum. UPT Penerbit UMM. Malang





































LAMPIRAN




Sabtu, 08 Juli 2017

Arum Manis

Yang mungkin tak pernah kamu sadari, angin selalu menerbangkan salam rinduku melalui jendela kamarmu. Langit mencurahkan hujan mewakili perasaanku kala menatap matamu yang basah. Dedaunan berguguran sebagai tanda kesedihan tak terungkap. Tanah kering yang ku pijak seperti retakan di jantung. Namun kini surya merangkak naik, cerah, seperti senyum yang tak lelah singgah di wajahmu. Mendung menyingkir, berganti warna menjadi biru. Kebun bunga bermekaran layaknya di berkati dewi alam. Tirai yang selama ini menutup telah di sibak, menampakan cahaya silau yang dulunya temaram. Karna ada kamu, berlarian dan tertawa. Seperti musim semi yang membuatku jatuh cinta.

Sepatu bot, puisi, dan sepotong cup cake

Midnight Poem

Sudah lama kapalmu berlayar nan jauh
Lama pula tak berlabuh di dermagaku
Kau hanya meninggalkan jangkar putus
Yang telah berkarat
Sedang aku tetap berdiri kokoh, memberi arah para nelayan, sekaligus menunggu dalam jemu.
Apa yang bisa di harapkan dari sesosok murcusuar selain sapa hangat albratos yang terbang rendah?





Sepatu bot, puisi, dan sepotong cup cake

Sabas

Sabtu, 16 Juli 2016

Black Spectrum

Quote from wattpad

Aku bagaikan batu yang berusaha menggapai langit.

Kau pasti akan langsung mengerti hal itu. Aku berusaha untuk menggapai sesuatu yang terlalu tinggi. Sementara titik tertinggi yang bisa kucapai hanyalah puncak kepalaku sendiri. Aku tak ragu jika ada yang merasakan hal yang sama sepertiku sekarang; perasaan mencintai seseorang yang tak akan bisa dicapai meski sebatas punggung saja.

Sekarang kutanya lagi; mengapa cinta selalu dilambangkan dalam bentuk hati?  Kenapa bukan segitiga? Atau persegi? Atau kubus? Atau tabung? Atau mungkin kerucut?

Kenapa harus bentuk hati?

Kadang aku berpikir, bisakah dirinya menerima sebentuk cinta yang lain?

Aku ingin mengiriminya sebuah pesan tanpa harus berbentuk hati

Karna getar rasa yang muncul terhadapnya berbentuk seperti lingkaran, yang tak memiliki ujung. Tiada batas.

Dan lagipula, aku hanyalah sebuah titik dalam satu buku kehidupannya.

Jadi, walaupun dia telah melupakan bagaimana rupaku. Walau dia tidak mengingat siapa namaku. Aku akan tetap hadir walaupun hanya berupa sebuah titik.

Dan itu sudah cukup....

Sabtu, 07 Mei 2016

Sabtu 07.05.2016

Kehadiranmu, seperti tetesan hujan dimusim kemarau. Aku menunggumu. Dalam sesaat aku terpaku memandangmu, seolah kamu hanya sebatas imajiku. Namun, senyum teduhmu meyakinkanku bahwa kamu nyata. Bahwa kamu bisa ku gapai dengan kedua tanganku.

Wakti berlalu, seolah meruntuhkan harap di tengah angan. Tiba tiba saja kau melangkah meninggalkanku. Menjauh, membuatku berusaha berdiri seorang diri kembali.

Kamu tau, aku belum cukup kuat untuk melakukannya. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa kembali mengangkat wajahku pada dunia ketika aku belum bisa mempercayai diriku sendiri? - ENDEAVOR

Minggu, 13 Maret 2016

Gadis bodoh

Kamu terus berlari, berlari tanpa melihatku. Gadis bodoh yang terus mengikutimu, gadis bodoh yang dengan naif-nya berpikir suatu saat nanti kamu akan menoleh kebelakang melihatku dan berharap kamu akan menghentikan langkah panjangmu. Tapi apa yang harus ku lakukan saat semua harapanku justru membuatku terpuruk. Memendam luka sendiri, mencoba bangkit tanpa uluran tangan siapapun. Kamu terus berlari, terus berlari dengan asiknya sampai melupakan gadis bodoh tersebut juga manusia yang punya hati. Lalu apa yang harus dilakukan gadis bodoh tersebut ketika hati-nya mulai lelah? Haruskah ia terus mengejarmu? Sementara ada yang mencoba mengejarnya pula? Haruskah ia berhenti dan berbalik? Ia pernah merasakan berada pada posisi itu, merasakan betapa tidak berharga kehadirannya untukmu.